CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

8 Kebohongan Ibu Kita .... !! ..


” Seumur hidup kita menggendong orangtua di pundak kita, tidak akan bisa membalas jasa-jasa orang tua kita “

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan
membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah
ini justru sebaliknya.

makna sesungguhnya dari kebohongan ini
justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat
sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling
indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil,
aku terlahir sebagai seorang
anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja,
seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :

“Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu
senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap
dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi
untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar
dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk
disamping ku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang
yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu
seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan
memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia
berkata :

“Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah kakakku,
ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk
ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk
menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari
tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan
gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku berkata
:”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.

” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek”

———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi
ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu
yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah
selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah
disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak
dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat
ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu
sambil menyuruhnya minum.

Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,
dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita
pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat
kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati
yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar
maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat
kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk
menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan
nasehat mereka,

Ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak
mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit
sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang
bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu
memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang
tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut.

Ibu berkata : “Saya punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian
memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat
sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di
perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa
ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati,
bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku :

“Aku tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung,
harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra
atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku
melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani
operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh
kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku
karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu
menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering.
Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit
sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan
tegarnya berkata :

“Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU

YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya
percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali
mengucapkan : ” Terima kasih Ibu ! “

Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon

ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita
untuk berbincang dengan ayah ibu kita?

Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai
beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita
selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan
dengan pacar (’afwan yah nyindir yg pacaran), kita pasti lebih peduli
dengan pacar. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar, cemas
apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di
samping kita…??

Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas
apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah
bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan
kembali lagi…

Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita,

lakukanlah yang terbaik.

Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.


sumber:www.nurulfikri.sch.id

38 komentar:

yoyok mengatakan...

pertamax...hehehe

marcellino mengatakan...

Ceritanya sangat menyentuh hati.
Bagi yang orang tua nya masih ada khususnya yang paling utama ibu...berikan kasih sayang melebihi apa yang ia berikan kepada kita dimasa kita kecil sebelum sang waktu menjemput nya.
mugnit

yusuf mengatakan...

iya kak...makanya saya jadiin postingan..soalnya menyentuh bgt ceritanya..hehehe

anggaarie mengatakan...

hiks3..terharu deh..maafkan aku ibu, jika aku banyak salah

Arya mengatakan...

postingan yang benar-benar menarik sahabat, thanks telah berbagi...

Bahry's Blog mengatakan...

Untuk point 6 dan 7 ibu anda tidak berbohong mungkin yang kedelapan juga karena memang selama ini ibu anda tinggalnya di kampung bukan di Amerika. Ya kan???.

Arfar Cut Ben mengatakan...

Artikelnya bagus, saya jadi terharu...hiks....

gemoekzz mengatakan...

ya Allah, knp q bs lpa ma jasa ibu dan ayah q??? maafkan aq ibu ayah

q n berusaha sebaik mgkin untuk membuat km bahagia n bangga padaq

http://doel-gemoekzz.blogspot.com

budiawanhutasoit mengatakan...

seorang ibu itu ngga ada duanya..
jadi siapa yang tidak menghormati ibunya...maka lebih baik jadi batu..(halah..kayak di cerita malin kundang aja ya).

Mother is the best!

faiz_oi mengatakan...

setelah membaca tulisan ini, jadi merinding sekujur tubuh, dah lama ibu tak ku kunjungi..jadi kangen sama orang tua neh..makasih udah mengingatkan kita pada..

“Seperti udara kasih yang engkau berikan, tak mampu ku membalas, Ibu”.

iwan fals(Ibu - album 1910 1988)

Ari mengatakan...

Ya ,
Ibu adalah malaikat nyata di dunia.
Apapun ia berikan kepada kita termasuk nyawanya kalau perlu

Rumah Islami mengatakan...

sangat tersentuh membaca artikelnya...kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia...ikhlas

yusuf mengatakan...

yaaaa...makasi comment2 nyaa...

memang tidak berlebihan bila ibu disebut sbg pahlawan tanpa tanda jasa yg sesungguhnya..

inilah blog nyaa arie mengatakan...

mantaaap suf hahaha sedih nih gue bacanya (lebay)

faizz mengatakan...

kamu kenapa gak komentar di postingan baru ku?

jadi nanti ajah aku komentarnya, heheheheheheheheee

BeO mengatakan...

mengingatkan atas semua kesalahan yang sudah kuperbuat....

Duh....
Ma`afkan ku mam...
hiks...hiks...hiks...hiks...

wandi mengatakan...

masih ada kesempatan kok buat kita meminta maaf buat ortu kita..

Andie Gokil mengatakan...

gilak.
keren sob!
gue jadi sedih bacanya.
untuk menghiburnya, baca aja blogku mas.
hehehe.

nice post :D

fitri alifah mengatakan...

hiks..hiks...
yang ibu nya masih ada, dan jauh dari ibu karena merantau..segera telp..kalo deket, langsung pulang....:)

I LOVE U MOM COZ ALLAH

LaDy mengatakan...

waduhh.. aku byk th kok kebohongan nyokapku.. dan kdg itu adlh demi aku.. ;)

Si Wiwid mengatakan...

Bravo!!

J'aime beaucoup t'histoire...

rudi mengatakan...

wah sayang saya belum bisa membalas kebaikan ibu, saya sudah ditinggalkannya .....

zhind mengatakan...

posting ny sama kaya punya saya,gambar nya juga...
sll sebar kan hal yang baik pada org2 sob...

kakara mengatakan...

Sering kita melupakannya.. makasih sob telah mengingatkanku..
TFS :)

goceng mengatakan...

sangat menarik....semua oranng pasti mengalaminya...tapi apakah sadar?

rendva mengatakan...

"tidak akan pernah ada sosok yg mampu menggantikan figur seorang ibu" .

yusuf mengatakan...

makasi smw comment2 nyaa...

walaupun qt gak bs ngebales jasa2 nya..minimal qt gak ngerepotin+bwt ibu sedih dgn ulah kita..

r@ndy-irawan mengatakan...

sedih sob ceritanya..hiks..hiks..
thanks buat postingannya

febri mengatakan...

maaf saya nagis

mona mengatakan...

waaaa....mau nangis bacanya..!!! =(

Novri mengatakan...

I love u mom!!!

pincenn mengatakan...

keren sob ceritanya.!!!!!!!!!!!!!!


jadi pengen meluk ibu.......

pincenn mengatakan...

kerenn sob ceritanya.....
jadi terharu gue..

dan jadi pengen meluk ibu~....

Zora Anggita mengatakan...

LIKETHIS

roni mengatakan...

pakabar bos

Anonim mengatakan...

SUBHANALLAH...KASIH IBU BEGITU TINGGI

-eru- mengatakan...

gak nyangka XDD
sipp lahh ^^

Anonim mengatakan...

keren mas, jadi terharu gw...
jadi kangen ibuu..